×

Sabtu, 11 Juni 2016

KEIKHLASAN



KEIKHLASAN

Oleh : Abdul Hanif



صحيح البخارى - (ج 1 / ص 4)
حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِىُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْن ُ سَعِيدٍ الأَنْصَارِىُّ قَالَ أَخْبَرَنِى مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِىُّ أَنَّهُ سَمِعَ عَلْقَمَةَ بْنَ وَقَّاصٍ اللَّيْثِىَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ - رضى الله عنه - عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَقُولُ « إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا


أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ »

"Sesungguhnya semua perbuatan itu tergantung dari niatnya; dan setiap orang akan mendapatkan balasan sekadar dengan apa yang ia niatkan.  Siapa saja yang hijrahnya karena dunia yang hendak diraihnya, atau karena wanita yang hendak dinikahinya; sesungguhnya hijrahnya itu tergantung dari apa yang ditujunya.“

Ikhlash menurut pengertian bahasa adalah meninggalkan riya‘/pamer dalam ketaatan. (tarku al-riyaa' fi al-thaa'ah .  Sedangkan menurut istilah, ikhlash adalah bersihnya hati dari setiap campuran yang dapat mengeruhkan kesuciannya; dan sucinya hati dari semua hal yang dianggap bisa mencampuri yang lainnya   Jika hati telah suci dari semua yang bisa mencampurinya, atau telah bersih dari setiap campuran maka orang tersebut telah ikhlash (khaalish). Al-Jurjaniy, al-Ta'rifaat, juz 1/28
Dalam kamus Mukhtaar al-Shihaah dinyatakan ikhlash dalam ketaatan adalah meninggalkan riyaa' /pamer. (al-ikhlaash fi al-thaa'ah tark al-riyaa’)  Imam Al-Raziy, Mukhtaar


al-Shihaah, hal. 184
Ikhlash adalah lurusnya perbuatan hamba, baik dhahir maupun bathin.   Dzun Nun ra, berkata, "Ada tiga perkara yang menjadi tanda keikhlasan; tidak memperhatikan pujian dan celaan manusia, selalu lupa untuk memperlihatkan amal dalam seluruh amal perbuatannya, dan mengharapkan pahala amal di akherat." Imam Qurthubiy, Tafsir al-Qurthubiy, juz 2/146
"Ikhlash adalah benar-benar hanya mentaati Allah dalam semua ketaatan; dan  semua itu ia lakukan semata-mata untuk mendekatkan diri hanya kepada Allah swt, tanpa menghiraukan lagi pujian manusia; tanpa mempedulikan lagi apakah perbuatannya disukai atau dipuji manusia; dan tanpa menghiraukan lagi semua tendensi selain taqarrub ila al-Allah (mendekatkan diri hanya kepada Allah swt).  Boleh juga dinyatakan, ikhlash adalah sucinya perbuatan dari keinginan untuk diperhatikan makhluk”. Imam Nawawiy, Al-Tibyaan fi Adaab Hamalat al-Quran, juz 1/18

IKHLASH dalam beramal merupakan sebuah kewajiban.  Ketentuan ini didasarkan pada firman Allah swt;

 وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus". [TQS al-Baiyyinah [98]:5]



Nabi saw bersabda;
"Sesungguhnya manusia yang pertama kali diadili di hari akhir adalah lelaki yang bersaksi bahwa ia berjuang di jalan Allah, kemudian membawa amalnya di hadapan Allah swt. Allah mengetahui dan dia mengetahui.  Kemudian,  Allah bertanya, " Untuk siapa kamu melakukan hal itu?".  Lelaki tersebut menjawab, "Sesungguhnya saya berperang karena Engkau.” Allah berfirman, "Bohong, sesungguhnya kamu berperang agar kamu dikatakan pemberani.  Kemudian lelaki itu dihisab  dan dilemparkan ke neraka. Kedua, lelaki yang diluaskan rejekinya oleh Allah dan menginfaqkan hartanya.  Lalu, ia membawanya di hadapan Allah.  Dia mengetahui dan Allah mengetahuinya.  Allah bertanya, "Untuk siapa kamu melakukan hal itu?".  Lelaki tersebut menjawab, "Tidaklah aku berinfaq kecuali karena Engkau." Allah berfirman, " Bohong!", kamu melakukan hal tersebut supaya kamu dikatakan  dermawan”. Allah memerintahkan untuk menghisab amal lelaki tersebut, sampai kemudian dia dilemparkan ke neraka.  Ketiga, seorang lelaki yang belajar ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Quran.  Lelaki itu kemudian membawa amal tersebut di hadapan Allah.  Dia mengetahui dan Allah pun mengetahuinya, .  Allah bertanya, "Untuk siapa kamu melakukan hal itu?".  Lelaki itu menjawab, " Saya belajar dan mengajarkan ilmu, dan membaca Al-Quran demi Kamu." Allah berfirman, " Bohong!".  Sesungguhnya kamu mengajar agar kamu dikatakan orang 'alim, dan kamu membaca Al-Quran agar dikatakan qari'.  Kemudian Allah memerintahkan untuk menghisab lelaki tersebut, sampai kemudian ia dilemparkan ke neraka."[HR. Imam Muslim]



0 komentar:

Posting Komentar

 
×
Judul