×

Rabu, 15 Juni 2016

KRITIK ATAS PEMIKIRAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN


DOWNLOAD: 
KRITIK ATAS PEMIKIRAN PSIKOLOGI DALAM PENDIDIKAN 




Oleh: Asep Kurniawan, S.Pd

Pendidikan merupakan perkara yang sangat penting untuk membentuk pola pikir seseorang, entah menjadi pola pikir yang tinggi (raqiyan) atau pola pikir dengan kualitas yang rendah (munkhafidz). Islam telah memposisikan pendidikan sebagai salah satu perkara yang mendapat perhatian serius. Melalui pendidikan, pola pikir (fikroh) seseorang. Pola pikirlah  yang akan menetukan pemahaman seseorang, sedangkan pemahaman akan membentuk tingkah laku.
dengan kata lain, bahwa pola pikir sangat menentukan terhadap pola sikap/tingkah laku seseorang. Ketika seorang pejabat melakukan tindak pidana korupsi, maka ada yang salah dengan pola pikirnya. Ketika ada orang yang tidak mau terikat dengan aturan Allah maka sudah pasti ada yang salah dengan pola pikirnya. Bisa jadi kualitas pendidikan menjadi salah satu faktornya.
Dewasa ini, dunia pendidikan telah memberikan sumbahngsih yang sangat besar terhadap pembentukan prilaku masyarakat dalam memandang kehidupan. Jika kita perhatikan, mayoritas masyarakat---dengan strata pendidikan yang beragam---telah menjadikan materi sebagai pandangan hidupnya alias menjadikan manfaat sebagai asas dalam kehidupannya. Hasilnya, kaidah halal haram tak lagi jadi ukuran (miqyas) dalam membentuk tingkah laku. Selama ada manfaatnya, tak peduli halal ataukah haram, maka hal itu akan dilakukan dan diraih, segala sesuatunya diukur dengan materi.
KRITIK ATAS KONSEP MENYALURKAN BAKAT/MINAT
Seseorang akan menganggap perkara yang haram dilakukan seolah halal untuk dilakukan dengan alasan menyalurkan potensi/bakat/minat yang dimiliki. Itulah yang kini terjadi di dalam dunia pendidikan.
Melalui konsep psikologi pendidikan, kini dunia pendidikan pun tak lagi memperhatikan rambu-rambu halal dan haram. Dengan alasan menggali potensi atau bakat, maka perbuatan yang sebenarnya bertentangan dengan syariah pun tetap dilakukan. Misal kita ambil contoh: seorang anak yang diduga memiliki bakat menari maka direkomendasikan untuk mengikuti sekolah tari. atau seorang anak yang diduga memiliki bakat menyanyi, maka direkomendasikan untuk mengikuti sekolah vokal. Padahal dalam pandangan islam, menari dihadapan orang lain, terutama bagi seorang perempuan jelas diharamkan.
Dalam sistem pendidikan sekarang, bakat dan minat akan difasilitasi sekalipun bertentangan dengan hukum dan aturan islam. tidak ada lagi upaya untuk melihat mana perbuatan yang boleh untuk dilakukan mana yang tidak boleh.
Sedangkan dalam sistem pendidikan islam, bakat dan minat itu  akan diarahkan pada perkara-perkara yang diperbolehkan oleh hukum dan aturan islam saja. Sementara itu, islam akan menutup rapat-rapat pintu yang akan mengarahkan pada keharaman dalam menyalurkan bakat dan minat.

KRITIK ATAS PENGGUNAAN KATA NEGATIF DALAM MENDIDIK DAN MENGAJAR
Selama kurang lebih 7 tahun saya terjun langsung di dunia pendidikan, kerap saya mendapat penjelasan, baik itu melalui seminar, pelatihan, artikel, dll, bahwa dalam mengajar harus dihindari penggunaan kata - kata yang berkonotasi negatif. Misalnya kata "tidak", "jangan", "tidak boleh", dll., dan harus diganti dengan kata-kata yang bermakna positif, misalnya "sebaiknya", "alangkah lebih baik", dll.
Dalam pandangan psikologi pendidikan, penggunaan kata yang berkonotasi negatif akan menyebabkan peserta didik malah berfikir negatif dan bahkan akan menyebabkan future, dan bahkan berprilaku negatif karena kata-kata negatif yang kita sampaikan akan tertanam di  alam bawah sadar.
Sedangkan kalau kita senantiasa menggunakan kata-kata positif, maka hal itu akan mendorong peserta didik untuk berpikiran positif, membangun kepercayaan diri, dll.
Namun, benarkah semua itu?
Sepintas hal itu seolah benar adanya karena didasarkan pada eksperimen-eksperimen di beberapa tempat/wilayah/negara. Tapi ada hal yang dilupakan, bahwa manusia bukanlah benda tak hidup. Keberadaan manusia di berbagai tempat selalu dipengaruhi oleh lingkungan tempat ia hidup. boleh jadi karena sistem pranata sosialnya (ijtima'i) buruk maka hal itu akan turut mememngaruhi terhadap pola pikir seseorang, terlepas apakah selalu diajari dengan kata-kata positif ataukah negatif. Ketika pemikiran, perasan dan sistem aturan di lingkungan tempat ia hidup memang baik, maka hal itu akan mempengaruhi seseorang untuk berprilaku baik. Sedangkan apabila pemikiran, perasan dan sistem aturan di lingkungan tempat ia hidup memang buruk, maka hal itu akan mempengaruhi seseorang untuk berprilaku buruk.
Lebih jauh lagi, konsep tersebut jelas bertentangan dengan konsep yang Allah ajarkan di dlam al-Quran. Di dalam banyak ayat dalam al-Quran, Allah menggunakan kata/kalimat yang mereka anggap "sebagai kaliat negatif".
misalnya dalam surat Luqman yang menggambarkan metode pendidikan juga jelas menggunakan kata "jangan":
"Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah..."
dalam ayat lain misalnya:
"wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendekati zina..."
dan masih banyak lagi ayat lain yang memberikan gambaran serupa.
Dengan adanya fakta dalam al-Quran demikian, apakah lantas kita akan mengatakan bahwa apa yang tercantum dalam al-Quran itu  slah? atau kita hendak mengatakan bahwa al-Quran itu tidak lagi sesuai dengan zaman? Na'uzubillahi min dzalik.
Jadi jelas yang salah adalah kekeliruan berpikir manusia yang mencoba menyaingi Allah dengan keterbatasan akal dan kemampuan yang mereka miliki.
Yang semestinya kita lakukan bukanlah menggunakan kata positif dan meniadakan kata negatif. Akan tetapi yang seharusnya kita lakukan adalah menggunakan uslub (tekhnik) yang baik dalam mengajar dan mendidik. Sekalipun kita menggunakan kata "tidak, "jangan", dll., jika kita menyampaikannya dengan cara yang baik dan bijkasana maka hal itulah yang justru akan membekas dengan baik pada diri peserta didik. Sebagaimana Allah perintahkan kepada kita:
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (TQS. an-Nahl: 125)
Berpijak pada Psikologi barat dalam menentukan arah kebijakan pendidikan tentu merupakan kekeliruan besar. Psikologi bukanlah ilmu pengetahuan (al-'ilm), tetapi psikologi adalah hadharah (peradaban) barat yang jelas bertentangan dengan islam. Maka sudah seyogyanya bagi kita yang mengharapkan output pendidikan yang berkualitas, untuk kembali kepada konsep dan sistem pendidikan islam yang telah terbukti selama kurang lebih 14 abad lamanya mampu mencetak generasi-generasi unggul. Bahkan islam pernah menjadi pusat pendidikan dunia karena memang terkenal dari sisi kualitasnya yang tak terkalahkan. Dari sistem pendidikan islam pulalah lahir berbagai ilmuwan cerdas para penemu dasar-dasar IPTEK, ilmu kedokteran, dll.
Kejayaan tersebut insya Allah akan kembali kita raih manakala ada dalan naungan daulah khilafah islamiyyah yang akan menerapkan seluruh aturan Allah dan RasulNya dalam berbagai aspek kehidupan, politik, pendidikan, pranata sosial, hukum, dll.
hasbunallah wani'mal wakiil ni'mal maula wa ni'man nashiir

0 komentar:

Posting Komentar

 
×
Judul