×

Rabu, 01 Juni 2016

KEMURUNGAN JIWA

Oleh H. Luthfi H.
عن أبي عبيدةَ قال: ستةٌ لا يخلون من الكآبة، رجلٌ افتقر بعد غِنى، وغنيٌّ يَخاف على ماله التَّوى، وحَقودٌ، وحَسود، وطالب مرتبة لا يبلُغها قدره، ومخالطة العلماء بغير علم.
Abu Ubaidah berkata; ada enam perkara yang seseorang tidak kosong oleh kemurungan jiwa. Yakni orang yang jatuh miskin yang tadinya dia kaya, orang yang kaya namun ia khawatir hartanya akan hilang, orang yang berhati iri, orang yang berhati dengki, orang yang menginginkan suatu kedudukan, namun dia tidak sampai menggapainya. Dan yang terakhir seseorang yang berkumpul dengan Ulama, namun ia tidak memiliki kapasitas keilmuan.
جوامع الكلم ونفائس الحكم من كتاب المجالسة وجواهر العلم
****
يقول أبو عبيدة صاحب كتاب الأموال: ستة لا يخلون من الكآبة أي هناك ستة أصناف من الرجال يشعرون بالحزن وهم:
Berkata Abu ‘Ubaidah dalam kitabnya “Al Amwal”. Ada enam perkara, yang jika terdapat pada orang tersebut, maka jiwanya tidak akan pernah kosong dari rasa gelisah, keadaan jiwanya selalu dalam kemurungan. Orang tersebut selalu memiliki sifat sedih dan penuh keraguan.
أولا: رجل افتقر بعد غنى: أي رجل كان غنيًا فصار فقيرًا فهو حزين لهذا السبب.
Yang pertama, seorang laki-laki yang dia jatuh miskin, padahal sebelumnya ia adalah seorang yang kaya. Dia akan menjadi sedih dikarenakan kondisi kemiskinan yang menimpanya ini.
ثانيا: وغني يخاف على ماله التَّوى: أي رجل غني يخاف أن يَبتعد مالُه عنه فهو حزين لهذا السبب.
Yang kedua, adalah seseorang yang kaya raya, namun ia sangat khawatir jika hartanya hilang. Seandainya hatta itu menjauh darinya. Sehingga dia selalu menjadi sedih dan khawatir dengan keadaan demikian.
ثالثا: وحقود: أي رجل فلبه مملوء بالحقد على إخوانه لا يحبهم ولا يحب الخير لهم. والحقد هو الغل كما ورد في القرآن: (ربنا لا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا) غلا: أي حقدا نعوذ بالله من ذالك.
Yang ketiga adalah sifat iri. Yakni, seseorang yang di dalam hatinya dipenuhi perasaan iri atas saudaranya. Tidak mencintai mereka dan tidak pernah senang melihat mereka mendapat dan melakukan kebaikan. Perasaan iri (الحقد ) ini dalam Al Qur’an juda disebut dengan istilah ( الغل), iri sebagaimana firman Allah;
(وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ)
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. [Surat Al-Hashr 10]
رابعا: وحسود: أي ورجل يحسُد الناس على النعم التي أنعم الله بها عليهم. والحسد هو تمنَّى زوال النعمة. وقد أمر الله تعالى نبيه أن يتعوذ بالله من شر الحاسد … قال له: (قل أعوذ برب الفلق) … (ومن شر حاسد إذا حسد).
Yang keempat adalah perasaan hasud (dengki). Yakni seseorang selalu dengki atas ragam nikmat yang Allah berikan kepada saudaranya. Sifat dengki adalah berkeinginan segala kenikmatan hilang –pada orang lain–. Allah SWT memerintahkan nabi-Nya (juga kita seluruh kaum Muslim), untuk berlindung kepada Allah dari orang-orang yang bersifat hasad. Firman Allah;
(قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ. مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ. وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ. وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ. وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ)
Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh. Dari kejahatan makhluk-nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki”.
[Surat Al-Falaq1 – 5]
خامسا: طالب مرتبة لا يبلغها: أي رجل يسعى إلى الوصول إلى درجة عالية ومنزلة رفيعة ومكانة مرموقة ولا يصل إليها فيظل حزينا بسبب ذلك.
Yang kelima adalah, seseorang menuntut suatu posisi, derajat, atau kedudukan tertentu, namun ia tidak mampu meraihnya. Seseorang yang berusaha keras menuntut sesuatu yang tinggi, posisi yang strategis, kedudukan yang terkemuka. Namun pada kenyataannya dia tidak bisa mencapainya. Keadaan seperti ini menjadikan ia sedih, jiwanya pun juga murung.
سادسا: ومخالطة العلماء بغير علم: أي رجل جاهل لا علم عنده يخالط العلماء ويجالسهم يستمع إلى أقوالهم ولا يفهم قولهم فهو حزين لذلك.
Dan yang keenam, berkumpul dan berinteraksi dengan Ulama tanpa disertai ilmu. Yakni seseorang yang bodoh, yang dalam dirinya tidak memiliki kapasitas keilmuan, akan tetapi dia berkumpul dengan Ulama. Dia duduk dekat pada ulama tersebut, mendengarkan kata-katanya, namun ia tidak bisa memahaminya. Keadaan seperti itu membuat ia selalu bersedih.
وصلِّ اللهم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

SUMBER:
http://hizbut-tahrir.or.id/2016/05/14/kemurungan-jiwa/

0 komentar:

Posting Komentar

 
×
Judul